Sejak akhir tahun 80an YDP telah bekerja bersama masyarakat di Nusa Penida. Namun, YDP mulai melakukan kegiatan yang lebih intensif sejak bekerjasama (didanai oleh) dengan EZE (sekarang EWDE, Jerman) di akhir tahun 90an sampai 2008 dan bekerjasama dengan Fakultas Peternakan, Universitas Udayana dalam melaksanakan penghijauan dalam penyediaan makanan ternak. Kontinuitas dan perluasan proyek dilakukan pada periode 2012-2013, tahun periode di bidang hutan rakyat dan pasokan air bekerjasama dengan ICCO lembaga dana pembangunan internasional Belanda.
Dalam ranah administrasi, Nusa Penida adalah termasuk provinsi Bali, namun perkembangan daerah ini tertinggal jauh di belakang dan memprihatinkan. Tempat ini tidak mempunyai kekayaan budaya dan ekologi setingkat seperti Bali, oleh karena itu, Nusa Penida belum dapat memperoleh keuntungan dari pengembangan pariwisata di pulau utama. Berbeda dengan Bali, Nusa Penida adalah daerah yang kering dan tidak subur. Nusa Penida adalah sebuah pulau berbukit di mana irigasi tidak mungkin dilakukan sedangkan degradasi lahan telah menyebar luas karena penanaman terus-menerus dan praktek pertanian yang kurang ramah dan tidak beradaptasi dengan lokasi. Tidak ada irigasi, air menjadi sangat langka di musim kemarau. Kurangnya perspektif ekonomi telah menyebabkan migrasi besar-besaran ke Bali dan daerah lain di Indonesia.
Kegiatan ekonomi paling berkembang di daerah pesisir telah berkembang selama bertahun-tahun terakhir. Pertanian merupakan aktivitas ekonomi utama di Nusa Penida. Perikanan dan baru-baru ini, budidaya rumput laut merupakan kegiatan utama penduduk pesisir. Sebelum YDP mengimplementasikan proyek pembangunan terpadu pedesaan, sangat sedikit kegiatan ekonomi sekunder yang ada. Sekarang, hal ini telah berubah dan usaha ekonomi sampingan telah dikembangkan seperti peternakan, penginapan, kehutanan sosial, kerajinan tangan, dan pengolahan hasil pertanian. Bagian yang perlu diperhatikan dalam jumlah penduduk (terutama mereka yang tidak memiliki tanah yang cukup) adalah tidak memiliki sumber daya yang cukup guna menjamin kelangsungan hidup mereka.
Posisi perempuan di Nusa Penida kurang menguntungkan dibandingkan di Bali. Perempuan masih di posisi yang lebih rendah daripada suami mereka. Namun, situasi ini cepat berubah dan sudah ada perbedaan mencolok antara keluarga yang tinggal di daerah pesisir (dan penyebab lain dari pengaruh luar) dan keluarga yang tinggal di perbukitan. Perempuan semakin melibatkan diri dalam kegiatan ekonomi (misalnya di dalam industri penginapan dan perdagangan kecil), yang mereka kendalikan penuh (lihat penjelasan lampiran Nusa Penida untuk lebih jelasnya).
Proyek pembangunan sosial-ekonomi dan lingkungan (dilaksanakan oleh YDP pada periode 2006-2008) telah memungkinkan YDP untuk menguji dan menyesuaikan analisa awal (lihat: Laporan evaluasi 2008 dalam web ini). Masalah utama dapat diringkas sebagai berikut:
Setelah melihat kendala-kendala ini, strategi harus dikembangkan dan harus memiliki karakteristik sebagai berikut:
Secara umum karakteristik kecamatan dibagi menjadi dua zona ekologi, daerah pesisir dan daerah perbukitan. Secara ekonomi, perbedaan ini memberikannya dua jenis masyarakat, pesisir dengan kegiatan ekonomi yang heterogen dan diperbukitan yang lebih homogen dengan kegiatan pertanian-peternakan. Pola peternakan sapi, babi dan peternakan ayam adalah karakteristik penting mereka yang serupa dengan di Bali. Secara umum, usaha tani yang kering lebih hidup di daerah pesisir. Hasil panen pertanian yang digunakan sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk pemesanan makanan untuk musim kemarau.
Dampak positif dari program penghijauan yang diprakarsai oleh YDP melalui proyek sebelumnya dengan hasilnya, pakan ternak, pengelolaan tanah, tanaman keras dan termasuk perbaikan ekosistem dan agro-iklim ditandai dengan meningkatnya jumlah masa hujan, yaitu dari 3 bulan dalam satu tahun sebelum pelaksanaan program, dan 5 bulan setelah program dilaksanakan, sedangkan ketersediaan pakan ternak, kayu penyangga untuk budidaya rumput laut, dan tanaman buah untuk masa depan. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa penanaman kembali yang berkelanjutan pada saat tanaman telah mencapai kematangan untuk penebangan atau dipanen dan memperluas pemerataan pembangunan kehutanan sosial. Selain itu, tanaman yang paling sesuai dengan kondisi dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi bagi Nusa Penida layak mendapat perhatian dalam perencanaan penyediaan bibit.
Penjualan tanah besar besaran kepada investor yang berasal dari luar Nusa Penida semakin mengurangi kepemilikan lahan petani.
Proyek ini berusaha mencapai tujuan berikut ini (tujuan keseluruhan):
Lebih khusus lagi, proyek ini bertujuan pada:
Tujuan proyek ini adalah untuk mencapai peningkatan berkala dari kinerja (hasil-hasil dengan tingkat yang lebih tinggi dan kualitas yang lebih baik, peningkatan kesuburan tanah dan pelestarian lingkungan, penurunan kerentanan, pembedaan produksi/jasa) dari kegiatan ekonomi (pertanian, produksi pertanian non-tani) dari kelompok sasaran.