Pilih bahasa       

Melihat Sekilas Proyek 2012/2013 Nusa Penida


Melihat Sekilas Proyek 2012/2013 Nusa Penida
Senin, 24 Juli 2023    Berita

Keikut-sertaaan Dalam Perkembangan

Sejak akhir tahun 80an YDP telah bekerja bersama masyarakat di Nusa Penida. Namun, YDP mulai melakukan kegiatan yang lebih intensif sejak bekerjasama (didanai oleh) dengan EZE (sekarang EWDE, Jerman) di akhir tahun 90an sampai 2008 dan bekerjasama dengan Fakultas Peternakan, Universitas Udayana dalam melaksanakan penghijauan dalam penyediaan makanan ternak. Kontinuitas dan perluasan proyek dilakukan pada periode 2012-2013, tahun periode di bidang hutan rakyat dan pasokan air bekerjasama dengan ICCO lembaga dana pembangunan internasional Belanda.

Gambaran Singkat di Nusa Penida

Dalam ranah administrasi, Nusa Penida adalah termasuk provinsi Bali, namun perkembangan daerah ini tertinggal jauh di belakang dan memprihatinkan. Tempat ini tidak mempunyai kekayaan budaya dan ekologi setingkat seperti Bali, oleh karena itu, Nusa Penida belum dapat memperoleh keuntungan dari pengembangan pariwisata di pulau utama. Berbeda dengan Bali, Nusa Penida adalah daerah yang kering dan tidak subur. Nusa Penida adalah sebuah pulau berbukit di mana irigasi tidak mungkin dilakukan sedangkan degradasi lahan telah menyebar luas karena penanaman terus-menerus dan praktek pertanian yang kurang ramah dan tidak beradaptasi dengan lokasi. Tidak ada irigasi, air menjadi sangat langka di musim kemarau. Kurangnya perspektif ekonomi telah menyebabkan migrasi besar-besaran ke Bali dan daerah lain di Indonesia.

Kegiatan ekonomi paling berkembang di daerah pesisir telah berkembang selama bertahun-tahun terakhir. Pertanian merupakan aktivitas ekonomi utama di Nusa Penida. Perikanan dan baru-baru ini, budidaya rumput laut merupakan kegiatan utama penduduk pesisir. Sebelum YDP mengimplementasikan proyek pembangunan terpadu pedesaan, sangat sedikit kegiatan ekonomi sekunder yang ada. Sekarang, hal ini telah berubah dan usaha ekonomi sampingan telah dikembangkan seperti peternakan, penginapan, kehutanan sosial, kerajinan tangan, dan pengolahan hasil pertanian. Bagian yang perlu diperhatikan dalam jumlah penduduk (terutama mereka yang tidak memiliki tanah yang cukup) adalah tidak memiliki sumber daya yang cukup guna menjamin kelangsungan hidup mereka.

Posisi perempuan di Nusa Penida kurang menguntungkan dibandingkan di Bali. Perempuan masih di posisi yang lebih rendah daripada suami mereka. Namun, situasi ini cepat berubah dan sudah ada perbedaan mencolok antara keluarga yang tinggal di daerah pesisir (dan penyebab lain dari pengaruh luar) dan keluarga yang tinggal di perbukitan. Perempuan semakin melibatkan diri dalam kegiatan ekonomi (misalnya  di dalam industri penginapan dan perdagangan kecil), yang mereka kendalikan penuh (lihat penjelasan lampiran Nusa Penida untuk lebih jelasnya).

Proyek pembangunan sosial-ekonomi dan lingkungan (dilaksanakan oleh YDP pada periode 2006-2008) telah memungkinkan YDP untuk menguji dan menyesuaikan analisa awal (lihat: Laporan evaluasi 2008 dalam web ini). Masalah utama dapat diringkas sebagai berikut:

  • Terbatasnya sumber daya alam dimana populasi terlalu bergantung;
  • Tingginya tingkat ketergantungan pada kegiatan ekonomi jangka pendek yang sering tidak dapat diandalkan;
  • Ketidakseimbangan ekologi karena praktek-praktek pertanian yang tidak berkelanjutan dan kurangnya pohon di bukit-bukit;
  • Secara keseluruhan karena kekurangan air di daerah perbukitan yang menyebabkan migrasi sementara sementara pada saat musim kemarau;
  • Rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya struktur untuk pengembangan sumber daya manusia lokal.

Setelah melihat kendala-kendala ini, strategi harus dikembangkan dan harus memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Diversifikasi kegiatan ekonomi yang dapat mengurangi ketergantungan pada kegiatan ekonomi tunggal dan tidak dapat diandalkan dengan penyediaan kemungkinan-kemungkinan ekonomi lain, terutama untuk perempuan, untuk lebih meningkatkan posisi mereka;
  • Pengoptimalan potensi pengembangan ternak dengan melihat dari pendirian sistem pertanian terpadu (hasil produk tanaman sebagai pakan ternak, rotasi tanaman pangan dan makanan ternak polong-polongan untuk meningkatkan kesuburan tanah, budidaya tanaman hijau untuk memberikan jalan bagi kegiatan pertanian dan pengembangan aktifitas non-tani yang produktif);
  • Pengembangan sumber daya alam melalui pembangunan kehutanan social dan tindakan anti-erosi;
  • Pengadopsian pendekatan kelompok swadaya berdasarkan organisasi tradisional yang ada, untuk mengatasi keterbatasan sumber daya manusia yang ada dengan efektif.

Secara umum karakteristik kecamatan dibagi menjadi dua zona ekologi, daerah pesisir dan daerah perbukitan. Secara ekonomi, perbedaan ini memberikannya dua jenis masyarakat, pesisir dengan kegiatan ekonomi yang heterogen dan diperbukitan yang lebih homogen dengan kegiatan pertanian-peternakan. Pola peternakan sapi, babi dan peternakan ayam adalah karakteristik penting mereka yang serupa dengan di Bali. Secara umum, usaha tani yang kering lebih hidup di daerah pesisir. Hasil panen pertanian yang digunakan sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk pemesanan makanan untuk musim kemarau.

Dampak positif dari program penghijauan yang diprakarsai oleh YDP melalui proyek sebelumnya dengan hasilnya, pakan ternak, pengelolaan tanah, tanaman keras dan termasuk perbaikan ekosistem dan agro-iklim ditandai dengan meningkatnya jumlah masa hujan, yaitu dari 3 bulan dalam satu tahun sebelum pelaksanaan program, dan 5 bulan setelah program dilaksanakan, sedangkan ketersediaan pakan ternak, kayu penyangga untuk budidaya rumput laut, dan tanaman buah untuk masa depan. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa penanaman kembali yang berkelanjutan pada saat tanaman telah mencapai kematangan untuk penebangan atau dipanen dan memperluas pemerataan pembangunan kehutanan sosial. Selain itu, tanaman yang paling sesuai dengan kondisi dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi bagi Nusa Penida layak mendapat perhatian dalam perencanaan penyediaan bibit.

Penjualan tanah besar besaran kepada investor yang berasal dari luar Nusa Penida semakin mengurangi kepemilikan lahan petani.

Tujuan (tujuan dan fungsi proyek)

Proyek ini berusaha mencapai tujuan berikut ini (tujuan keseluruhan):

  • Peningkatan posisi sosio-ekonomi kelompok sasaran;
  • Peningkatan kesuburan tanah, pengurangan kehilangan hutan dan pengurangan tanah kritis;
  • Penciptaan dan penguatan organisasi kelompok sasaran otonom yang secara efektif mampu mempromosikan dan membela hak-hak anggota mereka dan untuk mengabadikan momentum pembangunan yang diciptakan melalui proyek.

Lebih khusus lagi, proyek ini bertujuan pada:

  • Peningkatan kondisi lingkungan fisik.
  • Peningkatan dan pemasokan air yang lebih baik.
  • Penguatan organisasi/kelompok sasaran sehingga mereka menjadi mandiri dan mampu mengambil peran dalam pengembangan ekonomi di Nusa Penida ketika proyek berakhir.

Tujuan proyek ini adalah untuk mencapai peningkatan berkala dari kinerja (hasil-hasil dengan tingkat yang lebih tinggi dan kualitas yang lebih baik, peningkatan kesuburan tanah dan pelestarian lingkungan, penurunan kerentanan, pembedaan produksi/jasa) dari kegiatan ekonomi (pertanian, produksi pertanian non-tani) dari kelompok sasaran.

Kegiatan Proyek

  • Kegiatan proyek dalam setahun ini akan meliputi: (1) menyediakan berbagai macam tanaman keras dan tanaman buah-buahan (40.000 pohon jati dan jeruk per-tahun) untuk program kehutanan sosial, (3) penambahan pembangunan jumlah unit cubang tiap tahun (resapan air bawah tanah); (4) pelatihan, (5) pertanian dan fasilitas produksi pakan ternak, (6) informasi pemasaran dan fasilitas.
  • Langkah-langkah kegiatan proyek meliputi: (1) pemilihan para kandidat program; (2) melakukan pelatihan untuk anggota masyarakat/publik dan konsultan, (3) melaksanakan fasilitas pacsa pelatihan ; (4) membangun cubang (resapan air bawah tanah), dan (5) membagikan bibit tanaman.

PENGHARGAAN


Web Statistic