Welcome to Daya Pertiwi Foundation, we are developing of the people's economy and the prevention of climate change.
Berita Terkini
Selayang Pandang Proyek 2014/2015: Pulau Nusa Penida & Kubu Kecamatan Karangasem, Bali
Dikirim: 30 March 2015

Intervensi Pembangunan

Suatu proyek kerjasama dengan ICCO, Belanda yang dilaksanakan di kecamatan Kubu, Karangasem dan kepulauan Nusa Penida, Propinsi Bali. Daerah-daerah ini merupakan kecamatan-kecamatan paling miskin di Bali. Penduduk di kecamatan ini hidup di bawah garis kemiskinan.
Kemiskinan, antara lain, seringkali menjadi pemicu ketegangan dan konflik antar agama dan etnis, dan kekerasan terhadap wanita. Meskipun termasuk propinsi Bali, tetapi segi ekonominya tidak sebanding dengan kecamatan-kecamatan lain di Bali. Status proyek yang akan dilaksanakan di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem merupakan proyek baru, dan bukan perpanjangan dari proyek yang sudah ada sebelumnya. Sementara proyek yang akan dilaksanakan di Nusa Penida merupakan proyek yang sudah ada sebelumnya untuk tahap konsolidasi intervensi.

Latar Belakang Proyek

Pembangunan di Bali telah dipengaruhi secara positif dari lokasinya yang dekat dengan pulau Jawa, yang merupakan pusat ekonomi dan politik Indonesia. Selain itu juga perlu ditambahkan potensi keunikan Bali sebagai daerah wisata dan lokasi strategisnya bagi pembangunan Indonesia bagian Timur. Selama ini, Bali dapat dilihat sebagai suatu kepulauan yang damai dan harmonis di dalam suasana huru hara politik dan ekonomi Indonesia.
Namun, banyak hal yang berubah dan sejauh ini tidak setiap kecamatan mendapatkan manfaat dari pembangunan umum Pulau. Bukan hanya tragedi 11 September 2001 saja yang berbuntut dengan sangat terpengaruhinya sector kepariwisataan dan mengakibatkan pengurangan drastis jumlah pengunjung setelah ledakan bom pertama dan kedua. Bali juga membayar dengan harga tinggi untuk peningkatan kemakmurannya. Potensi ekonominya yang luar biasa telah menarik banyak pencari kerja dan investor dari luar Bali karena adanya krisis dan ketidakpastian (tidak terjaminnya) keadaan politik di Jawa. Pengaruh para tunakarya atau pencari kerja dari luar Bali, para wirausahawan dan modal dari luar Bali sangat berpengaruh dalam pengambilalihan penguasaan ekonomi orang-orang Bali. Krisis ekonomi di Indonesia selanjutnya mengakibatkan migrasi besar-besaran orang-orang Jawa miskin dan tidak mempunyai pekerjaan, selain terjadinya tekanan pada pasar tenaga kerja dan peningkatan kondisi yang tidak aman.

Indonesia memiliki tradisi rencana-rencana pembangunan yang telah tertata baik yang dirumuskan pada tingkat nasional, propinsi dan kecamatan. Rencana-rencana ini dilaksanakan oleh sejumlah departemen penting pemerintah. Kualitas departemen-departemen ini sangat berbeda-beda. Pada umumnya, memiliki kualitas rendah di daerah-daerah Indonesia yang lebih terpencil, karena kurangnya sumber daya manusia yang memenuhi syarat. Kurangnya motifasi dan banyaknya tingkat korupsi juga menurunkan kinerja mereka lebih jauh, seperti yang terjadi pada dampak krisis ekonomi dan keuangan tahun 1997 (dan selanjutnya krisis politik) yang masih bisa dirasakan sampai sekarang.

Kemiskinan, antara lain, seringkali memicu ketegangan dan konflik antar agama dan suku, dan kekerasan terhadap wanita dalam rumah tangga.
Proyek akan dilaksanakan di kecamatan-kecamatan paling miskin di Bali bagian timur.
Lebih khususnya, proyek akan dilaksanakan di kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, yang terletak di bagian timur pulau Bali, dan di Kepulauan Nusa Penida. Penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Kedua kecamatan tersebut memiliki ciri iklim yang hampir sama. Keadaan-keadaan iklim dan topografi di kecamatan-kecamatan itu sangat kering (curah hujan hanya terjadi selama 42 hari; musim kering selama enam bulan) dan daerahnya tidak subur, berbukit-bukit juga terjadi kerusakan tanah yang telah menyebar luas karena pembudidayaan intensif dan buruknya praktek-praktek pertanian. Air sangat jarang di musim kering.

Layanan kemasyarakatan (pendidikan, kesehatan, air minum) berkualitas rendah dan dalam beberapa hal bahkan masih belum tersedia. Di tingkat kecamatan misalnya, tidak ada layanan rumah sakit, dan tenaga dokter yang dapat melayani warga juga terbatas. Hampir 70 % penduduknya buta huruf atau hanya tamat sekolah dasar. Wanita kurang mendapatkan pendidikan dibanding pria.

Uraian Permasalahan

Keadaan geografis yang kering dan tidak subur di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali, dan rendahnya tingkat pendidikan, dan juga kurangnya sektor lapangan kerja telah menyebarkan kemiskinan di daerah tersebut. Rendahnya tingkat pendidikan dan keahlian yang dimiliki juga menyebabkan orang kurang bisa bersaing untuk memperoleh pekerjaan di luar daerah. Kondisi ini diperparah dengan lokasi beberapa desa yang terisolir yang menyebabkan kurangnya pemenuhan berbagai kebutuhan dasar, seperti air bersih, makanan sehat dan pendidikan yang memadai.
Kehidupan utama masyarakat Kubu, Karangasem utamanya adalah pertanian dan peternakan. Mereka biasanya menanam tanaman-tanaman musiman, seperti kacang-kacangan, ketela, jagung, dll. untuk pertanian mereka. Hasil panen tanaman-tanaman ini tidak optimal karena keadaan geografi yang kering, berbatu dengan tanah berpasir dan kurangnya pasokan air, utamanya di musim kering. Di sektor peternakan, masyarakat beternak ayam, sapi, kambing dan babi dalam skala kecil. Selain itu, masyarakat juga membuat gula nira & tuak (nira yang difermentasi). Masyarakat seringkali menjual ternak mereka setiap tahun untuk membayar pajak dan memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Ketergantungan mereka pada sektor ini menyebabkan pendapatan yang relatif lebih rendah. Hal ini mempengaruhi pembangunan rumah yang tidak memadai, tidak ada kesadaran kesehatan diri dan lingkungan, serta biaya pendidikan yang tidak bisa terjangkau.

Kabupaten Karangasem adalah satu-satunya kabupaten di Bali yang termasuk kabupaten yang belum berkembang atau miskin. Salah satu kecamatan yang terletak di daerah tepi pantai dan termasuk sebagai daerah miskin adalah Kecamatan Kubu. Kecamatan Kubu menempati wilayah seluas 234.72 km2, terbagi dalam 9 desa, yaitu Desa Ban, Dukuh, Kubu, Tulamben, Baturinggit, Sukadana, Tianyar Timur, Tianyar Tengah dan Tianyar Barat. Dari ke 9 desa tersebut, 7 diantaranya (kecuali Ban dan Dukuh) merupakan daerah pesisir pantai yang panjangnya kurang lebih sekitar 24,4 km. Total penduduk di Kecamatan Kubu tercatat 67.559 jiwa, yaitu 33.731 pria dan 33.828 wanita. Sesuai data pemerintah, dari seluruh jumlah penduduk tersebut, di Kecamatan Kubu terdapat sejumlah Rumah Tangga Miskin (RTM) yaitu sebanyak 7.833 Kepala Keluarga, atau 27.762 jiwa. Total RTM di Kecamatan Karangasem bila dilihat dari tingkat pendidikan tertinggi kepala keluarganya adalah SD/MI (Sekolah Dasar), dan Kecamatan Kubu menempati peringkat tertinggi, yaitu sebanyak 7.646 RTM (20,71%). Lebih jauh lagi, masih ada kemungkinan bahwa angka RTM aktual lebih tinggi dari 20,71% karena pemerintah daerah cenderung menurunkan angka kemiskinan daerah dan menaikkan angka kemakmuran.
Keduanya, baik Kecamatan Kubu mau pun Nusa Penida termasuk dalam wilayah administrasi Propinsi Bali, tetapi sangat jauh tertinggal di bidang pembangunan. Wilayah ini tidak memiliki kekayaan ekologi seperti kebanyakan kecamatan di tanah Bali dan, oleh karenanya, tidak mendapatkan keuntungan dari perkembangan kepariwisataan di pulau utama. Berbeda dari kecamatan-kecamatan lain di Bali, Kecamatan Kubu dan Nusa Penida merupakan daerah kering (curah hujan hanya terjadi selama 42 hari; musim kering selama enam bulan) dan tidak subur. Nusa Penida merupakan daerah yang berbukit-bukit yang tidak memungkinkan adanya pembangunan irigasi dan telah terjadi kerusakan tanah karena pembudidayaan intensif dan buruknya praktek-praktek pertanian. Tidak ada irigasi, dan air sangat jarang di musim kering. Kurangnya sudut pandang ekonomi mengakibatkan banyaknya kejadian migrasi ke Bali dan ke pulau-pulau lain di Indonesia.

Kesempatan-kesempatan pilihan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan di daerah-daerah yang tidak subur dan pesisir pantai adalah:

(1)    Memperbaiki pemrosesan produk pertanian dan juga pembuatan gula nira dan tuak (nira yang difermentasi), yang saat ini dihasilkan oleh masyarakat setempat. Kesempatan-kesempatan pasar prospektif lainnya dari pemrosesan produk pertanian adalah kacang, kacang mete, dan juga produksi daun lontar (palmyra palm)  sebagai bahan baku pembuatan kerajinan tangan dan kertas;

(2)    Memperbaiki pentingnya kesempatan usaha tanaman tunai (sayur mayur, mangga, jeruk, buah-buahan lain, kelapa,  kemiri, kacang mede) dan tanaman-tanaman yang memiliki kesempatan pangsa pasar bagus, seperti sayur mayur, buah-buahan;
(3)    Mengembangkan potensi pembiakan ternak dan babi di tanah-daerah yang tidak subur, baik di tanah berbukit - dan di daerah-daerah pesisir pantai, asal disertai dengan pengembangan produksi pakan ternak yang memenuhi syarat untuk mendukung kegiatan-kegiatan tersebut;

(4)    Mengembangkan peran penting wanita di sektor-sektor industri  rumah tangga dan kerajinan tangan. Kegiatan-kegiatan wanita di daerah yang tidak subur dan daerah-daerah pesisir pantai yang tidak secara langsung berhubungan dengan kepemilikan tanah dapat dikembangkan untuk meningkatkan sumber-sumber pendapatan mereka. (1) salah satu sektor kerajinan tangan, misalnya, kain tenun tangan tradisional dapat dikembangkan melalui kelompok-kelompok pengrajin wanita. Makin banyak dan bagus bahan baku yang dibeli untuk para anggota kelompok, maka harga bahan bakunya  akan lebih murah dan lebih efektif bila dibanding membeli secara perorangan dalam jumlah kecil. Rancangan tenunan bisa lebih sangat dikembangkan untuk memenuhi tren pasar, alokasi produk (souvenir, barang-barang fungsional, aksesoris), dan lokasi yang sesuai (perumah tangga, perkantoran, hotel, toko). Perbaikan kontrol kualitas agar produk-produk memiliki daya saing juga harus dilaksanakan. (2) industri-industri rumah tangga lain yang prospektif yang merupakan kesempatan-kesempatan bisnis dikembangkan di daerah yang tidak subur dan daerah-daerah pesisir pantai untuk meningkatkan pendapatan wanita dan peran-peran mereka di sektor ekonomi, yaitu pemrosesan produk laut dan pembuatan garam.

Mengingat permasalahan-permasalahan tersebut di atas, proyek di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem dan Pulau Nusa Penida akan berfokus pada:

  • Pengenalan tindakan-tindakan yang sesuai untuk menghasilkan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dalam penyediaan input (bibit-bibit untuk menghasilkan tanaman-tanaman yang berkualitas baik dan bagus), agar bisa mencegah penyakit tanaman organik dan bisa memperoleh hasil akhir  dan harga pasar yang bagus;
  • Diversifikasi ekonomi dari pengembangan kegiatan-kegiatan baru di bidang kehutanan sosial, produksi ternak, industri-industri rumah tangga dan perdagangan. Kegiatan-kegiatan ini juga harus memberikan kesempatan-kesempatan kepada para wanita untuk terlibat dalam pengusaan ekonomi dan memperbaiki posisi mereka;
  • Memperbaiki pemasaran produk-produk kelautan dan produk-produk pemrosesan agribisnis;
  • Pembangunan kapasitas pada tingkat kelompok target (pembentukan dan dukungan kelompok-kelompok swabantu);
  • Memperbaiki posisi dan peran para wanita pesisir pantai dengan melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan ekonomi, khususnya untuk industri-industri rumah tangga pemrosesan produk laut dan pertanian, pembuatan garam, kerajinan-kerajinan tangan, termasuk tenun tangan.

Kelompok-kelompok target

Para penerima manfaat proyek akan terdiri dari:

Orang perorangan atau kelompok-kelompok masyarakat miskin dengan latar belakang yang berpotensi untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pembangunan ekonomi berbasis komunitas di daerah-daerah pedesaan, yang memiliki pendapatan di bawah angka minimum daerah, dan yang secara berkala menghadapi kesulitan-kesulitan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar  mereka. Minat dasar mereka adalah untuk mencapai standar hidup layak melalui pemenuhan layanan-layanan dasar dan pemanfaatan sumber daya alam yang sudah ada dengan cara yang lebih baik. Kelompok-kelompok yang akan dilibatkan dalam proyek ini adalah: para petani, nelayan dan wanita. Sesuai minat para anggota mereka, kelompok-kelompok tersebut dapat bekerja seperti bentuk pra-koperasi dengan status yang bisa berubah di kemudian hari menjadi bentuk koperasi yang sesungguhnya. Intervensi pengembangan Usaha-Usaha Kecil (UKK) atau intervensi kewirausahaan akan diterapkan untuk melatih dan membiasakan masyarakat menjalankan bisnis mereka. Paling sedikit 90 % dari para penerima manfaat proyek dipilih dari mereka yang berpendapatan di bawah rata-rata pendapatan propinsi pada saat awal pelaksanaan proyek, dan paling sedikit 40 % diantaranya adalah wanita.

Sekitar 900 penerima manfaat proyek  (pria dan wanita) akan secara langsung dilibatkan di dalam proyek. Para penerima manfaat akan diatur dalam kelompok-kelompok swabantu di daerah-daerah pedesaan, yaitu : para petani, nelayan, pedagang dan pengrajin.

Keterlibatan kelompok target dalam fase-fase proyek yang berbeda

Para penerima manfaat proyek akan dilibatkan di hampir seluruh tahapan proyek:
•    perencanaan dan perancangan proyek.        
•    Permulaan proyek.
•    Fase penerapan
•    Pengawasan dan evaluasi

Hasil dan dampak yang diharapkan

Proyek ingin memberikan kontribusi kepada tujuan-tujuan berikut (tujuan-tujuan keseluruhan):
•    Peningkatan pendapatan kelompok-kelompok target;
•    Peningkatan peran wanita dalam kegiatan-kegiatan ekonomi;
•    Perbaikan posisi sosial ekonomi kelompok-kelompok targetnya dan oleh karena itu, berupa pengurangan ketidakseimbangan ekonomi suatu daerah dan antar daerah ;
•    Peningkatan penghargaan kesempatan-kesempatan ketenagakerjaan;
•    Penciptaan dan penguatan organisasi-organisasi kelompok target otonom yang dapat meningkatkan dan membela hak-hak para anggota mereka secara efektif dan untuk mengekalkan momentum pembangunan yang telah diciptakan proyek;
•    Menciptakan dan melindungi lingkungan dengan cara yang lebih baik yang dapat mendukung pembangunan yang berkelanjutan melalui kegiatan-kegiatan pertanian dan usaha-usaha mikro /kecil.

Kegiatan-kegiatan

Pendekatan proyek dimulai dari dasar-dasar kemitraan dan inisiatif sendiri dan pemakaian pendekatan interaktif. Para pihak yang berkepentingan harus menghubungi proyek terlebih dahulu. Pendekatan proyek berfokus pertama kali pada pembentukan kelompok. Di daerah-daerah dengan tingkat pembangunan rendah, kelompok-kelompok ini dianggap sebagai media yang paling sesuai untuk mengenalkan perubahan. Pelatihan dan peningkatan kesadaran intensif membuat para anggota kelompok dapat menganalisa keadaan mereka, mendeteksi kelemahan-kelemahan mereka sendiri dan melakukan serta menentukan tindakan yang berpotensi untuk mencapai perbaikan. Kursus-kursus pelatihan teknis menambah keahlian mereka. Kelompok-kelompok ini kemudian secara intesif ditindaklanjuti; kemajuan dan hambatan-hambatan mereka dipantau dan dicari cara untuk melakukan tindakan-tindakan perbaikannya. Pihak-pihak lain (dinas pemerintah, universitas-universitas, sektor swasta dll.) diikutsertakan dalam proses, bila perlu. Proyek akan secara keseluruhan dilaksanakan oleh staf daerah. Kebanyakan dari mereka akan membagi pengalaman luas mereka di bidang-bidang ini, antara lain melalui pelaksanaan proyek-proyek sebelumnya.

Selanjutnya kami menyajikan kegiatan-kegiatan utama  proyek, memberikan beberapa rincian teknis pada beberapa kegiatan terpilih dan memberikan beberapa petunjuk untuk rangkaian penerapan kegiatan-kegiatan tersebut.

Kegiatan-kegiatan utama

Kegiatan-kegiatan kunci pusat proyek sebelummya adalah sekitar pembangunan kapasitas kelompok target dengan berbagai cara. Kegiatan-kegiatan utama dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian individu mau pun kelompok sehingga mereka bisa lebih siap mempertahankan kepentingan mereka dalam lingkungan kompetisi yang meningkat. Pembangunan kapasitas tercapai melalui kegiatan-kegiatan pelatihan yang dikembangkan dengan baik dan konsultasi, panduan dan pengawasan lapangan berkala Kunjungan-kunjungan pertukaran dan pelatihan kepemimpinan akan memperkuat lebih jauh proses ini. Sejalan dengan rekomendasi beberapa evaluasi yang dilakukan baru-baru ini, proyek akan menggunakan suatu pendekatan yang melampaui tingkat fungsional dan akan mendukung kelompok-kelompok untuk melakukan peran yang lebih luas sebagai lembaga-lembaga pembangunan tingkat desa.

Rincian teknis pada beberapa kegiatan-kegiatan pilihan

Pelatihan kegiatan-kegiatan baik untuk wirausahawan perorangan maupun para anggota kelompok-kelompok swabantu sangat penting untuk keberhasilan proyek. Pendekatan dan tindak lanjut pelatihan akan diuraikan secara mendetail pada poin-poin selanjutnya berikut ini. Kursus-kursus pelatihan yang akan diadakan adalah:

  • kursus-kursus pelatihan untuk para anggota kelompok-kelompok swabantu;
  • kursus-kursus pelatihan kepemimpinan untuk para pemimpin kelompok;
  • pelatihan teknis pertanian, perlindungan lingkungan pesisir pantai (perlindungan terumbu karang), pemrosesan dan kerajinan tangan;
  • pelatihan manajemen bisnis;
  • seminar-seminar pelatihan internal untuk staff.


Kursus-kursus pelatihan banyak yang akan disediakan oleh para staf DPF yang telah berpengalaman menangani hal ini; mereka akan dilengkapi dengan para personil sumber daya eksternal (misalnya para pengusaha) yang bisa membagikan pengalaman mereka yang belum bisa diberikan oleh  staff DPF. Seminar pelatihan internal akan dilaksanakan oleh para trainer eksternal.
Kegiatan-kegiatan teknis di Kecamatan Kubu:

  • Kegiatan-kegiatan industri-industri rumah tangga di bidang pemrosesan hasil pertanian dan produk-produk laut di daerah pesisir pantai. Wanita akan dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan ini; dan
  • Kegiatan-kegiatan industri-industri rumah tangga tenunan tradisional dan pekerjaan kayu dan kerajinan tangan lain;
  • pembentukan SHO-SHO yang menjalankan kegiatan-kegiatan di bidang tabungan & kredit mikro, produksi, pertanian dan pemasaran, higienis dan sanitasi;
  • Peningkatan produksi ternak: ternak dan babi;
  • Peningkatan penanaman tanaman buah dan hutan untuk program hutan masyarakat: penanaman pohon jati, mangga dan kacang mede;
  • Rehabilitasi tanah yang tidak subur dan kering.

Kegiatan-kegiatan teknis di Pulau Nusa Penida:

  • Penanaman berbagai macam tanaman keras (pepohonan hutan) dan tanaman buah untuk program kehutanan masyarakat;
  • Inovasi teknologi pasokan air minum yang memadai;
  • Produksi pertanian dan pakan ternak;
  • Industri-industri rumah tangga di bidang-bidang pemrosesan produk-produk pertanian, produk-produk tenun tradisional dan kerajinan tangan lain; dan
  • Pemasaran
  • Perlindungan lingkungan laut di Nusa Penida, misalnya: Perlindungan terumbu karang: (a) pengadaan pelampung penambat (kapal bertambat di laut); dan (b) pelatihan atau konseling komunitas pesisir pantai pada wilayah-wilayan target konservasi terumbu karang, di Ped dan desa-desa sekelilingnya.


Halaman sebelumnya Indeks Berita Terkini