Welcome to Daya Pertiwi Foundation, we are developing of the people's economy and the prevention of climate change.
Berita Terkini
Melihat Sekilas Proyek 2012/2015 Manggarai barat, Flores, NTT.
Dikirim: 04 March 2015

Keikutsertaan dalam perkembangan

Sebuah proyek baru bekerjasama dengan EWDE, Jerman, pemerintah daerah dan institusi lokal dilakukan di Pulau Flores Manggarai barat, NTT. Proyek tersebut bernama: Pengembangan Pedesaan Terpadu Berbasis Komunitas dam Pengembangan Ekonomi Usaha Kecil di Manggarai Barat, Manggarai barat, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Atau: Project No. 2012.0394 G, Community based integrated rural development and small-scale economic development in West Manggarai

Penelitian-penelitian tersebut  diadakan oleh tim dari YDP, pelaku  utama dari komunitas lokal , dan pemerintah daerah Manggarai Barat pada awal Agustus sampai September  2012. Perencanaan telah mengikutsertakan calon peserta  proyek. Peserta proyek akan dimintai keikut-sertaannya di hampir seluruh tahapan proyek. Dalam tahap perencanaan dan perancangan; proyek dirancang menurut perkiraan kebutuhan dasar dimana kelompok sasaran dan pelaku utama mengambil bagian dalam berperan secara aktif. Hasil dari analisa ini telah didiskusikan menyeluruh dengan mereka sebelum dituangkan dalam perencanaan. Analisa mendalam diperoleh dengan cara membangun hubungan dengan institusi lokal di Flores, NTT. Fase pertama proyek ini diimplementasikan dalam periode 3 (tiga) tahun, yang dimulai awal tahun 2013 sampai akhir tahun 2015.

Daerah Manggarai Barat meliputi luas area sekitar 91.450.00 km2. Luas tersebut meliputi keseluruhan luas area, jumlah luas tanah yang  terdiri dari dari Pulau Flores, Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Longos, dan beberapa pulau-pulau kecil lainnya 2,975.50 km2  sedangkan total luas laut adalah 6.052.50 km2.

Kondisi iklim dan kondisi topograpi di daerah tersebut adalah kering (4 bulan musim gugur, enam bulan musim kering ). Kondisi lahan berbukit-bukit dan kondisi tanah yang mengalami degradasi yang disebabkan oleh pengolahan yang kurang tepat dan praktek-praktek pertanian seperti tebang-bakar dan lahan berpindah. Air sangat jarang ditemukan pada saat musim kering. Merupakan daerah yang berbukit-bukit  dengan debit hujan yang rendah dan fasilitas irigasi yang kurang baik. Namun, kondisinya sedikit lebih baik karena tidak banyak terjadi erosi dan terdapat lebih banyak tanah subur, namun usaha untuk mengatasi erosi seperti terasering tidak dilakukan secara maksimal. Masih banyak tanah subur yang belum dimanfaatkan.

Kebanyakan petani  menggunakan  sebuah  sistem pertanian campuran, tetapi tanpa sebuah peningkatan integrasi  yang tinggi  antara pertanian dan kegiatan peternakan. Praktek penebangan dan pembakaran merajalela di sini hingga beberapa tahun yang lalu dan telah mengakibatkan kerusakan hutan. Walaupun demikian, produk hutan tetap merupakan sumber penting dari pendapatan bagi sebagian populasi.

Penolakan Masyarakat Terhadap Pertambangan

Masyarakat  sudah melakukan aksi  penolakan terhadap pertambangan berskala besar di Manggarai Barat karena dikhawatirkan akan mencemari perairan di sekitar Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo (Komodo Nasional Park).

Perusahaan pertambangan tersebut membawa dampak negatif terhadap kualitas kimiawi dan biologi air laut. Jika terjadi perubahan negatif yang signifikan terhadap kualitas air laut, maka dapat mengancam semua flora dan fauna air seperti ikan, biota laut serta termasuk terumbu karang.

Jika pembuangan limbah air atau tailing dalam proses pemisahan tanah dan emas dialirkan ke laut, dan arus laut bergerak ke semua arah, maka dapat dipastikan akan mencemari seluruh perairan laut di sekitar Labuan Bajo dan TNK bahkan bisa menembus perairan Kabupaten Bima di Provinsi NTB dan Laut Flores. Dikhawatirkan perairan di sekitar Labuan Bajo dan TNK akan tercemar dengan lumpur yang berdampak negatif pada kualitas kimiawi dan biologi air laut.

Pariwisata: Potensi  Yang Belum Dimanfaatkan

Menurunnya produksi migas merupakan alasan lain untuk menuntut pemerintah  mengembangkan industri pariwisata guna mendapatkan pertukaran asing yang lebih besar. Salah satu obyek wisata yang terkenal sampai mancanegara adalah Taman Nasional Komodo (TNK) dengan objek utamanya adalah Komodo (Varanus komodoensis atau Ora dalam Bahasa Manggarai).

Taman Nasional Komodo terletak di Kabupaten Manggarai Barat tepatnya di tengah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Objek wisata ini mampu menarik wisatawan rata-rata sebanyak 29.330 dari tahun 2004–2007, yang terdiri dari 17.022 wisatawan asing (Wisman) dan 12.308 orang wisata domestik (Winus), (Diparbud Manggarai Barat 2007).

Keindahan alamiah Manggarai Barat seharusnya menjadi sumber kesejahteraan masyarakat sekitar, yang mana kebanyakan dari mereka hidup dalam kemiskinan. Meskipun begitu, sampai saat ini masyarakat belum disiapkan untuk mengambil manfaat peluang dari sektor pariwisata. Akses dan infrastruktur menuju objek wisata masih sangat minim, partisipasi masyarakat  terhadap penyediaan jasa pelayanan pariwisata dan akomodasi masih di bawah standar minimum. Kecuali di kota Labuan Bajo, dimana beberapa investor dari luar Flores mulai berinvestasi membangun hotel berbintang.

Di satu sisi, ada kesalahan pengelolaan dalam eksploitasi hutan (penebangan liar) dan lingkungan karena alasan kemiskinan serta tidak ada tawaran solusif terhadap kesulitan ekonomi untuk penduduk sekitar. Di sisi lain, hutan dan lingkungan menawarkan potensi yang besar bagi pengembangan eko-pariwisata  dan berbasis komunitas untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat dan melepaskan mereka dari kemiskinan. Namun, masyarakat tidak dipersiapkan untuk turut serta dalam industri pariwisata sementara obyek pariwisata belum disiapkan untuk menyambut kedatangan wisatawan asing.

Kondisi hidup dan kemiskinan

Tidak heran jika Manggarai Barat masih terperangkap dalam siklus kemiskinan, tidak berkembangnya akses pendidikan membuat masyarakat hidup dibawah garis kemiskinan dengan sumber daya manusia yang sangat rendah. Meskipun sarana pendidikan formal telah di bagun di setiap wilayah bagian, namun hal tersebut tidak menjamin masyarakat memperoleh pendidikan yang layak, belum lagi tingginya biaya pendidikan formal yang menghambat banyak orang untuk memperoleh pendidikan karena mereka tidak dapat membayar biaya sekolah sebesar Rp.75.000 per bulan untuk Sekolah Dasar (SD), Rp.600.000 per tahun untuk SMP, dan Rp.1.200.000 per tahun untuk SMA. Biaya tersebut diatas kemampuan mereka. Kondisi keuangan mereka tidak dapat menandingi tingginya biaya pendidikan. Sulitnya situasi perekonomian menyebabkan kecenderungan untuk menikah pada usia dini, bertani dengan sedikit pengetahuan, kurangnya pendidikan formal pada umumnya dikarenakan ketidakmampuan mereka membayar biaya pendidikan, dan bergantung pada warisan orang tua. Kesadaran dan kemampuan masyarakat belum dapat menyelesaikan masalah kemiskinan dan meningkatkan kondisi ekonomi.

Kelompok Sasaran

Secara global dikatakan, kelompok sasaran proyek di Flores NTT terdiri dari dua kelompok yang berbeda:

  • Individu atau kelompok yang memiliki latar belakang sebagai peserta potensial dalam kegiatan pengembangan ekonomi berbasis masyarakat (Community Based Economy Development atau CBED) di daerah pedesaan1. Pendapatan mereka di bawah pendapatan rata-rata daerah dan mereka secara berkala harus memenuhi kebutuhan pokok mereka. Kepentingan pokok mereka adalah untuk mencapai standar kehidupan yang layak melalui penyediaan pelayanan pokok dan pemanfaatan sumber daya alam tersedia yang lebih baik.
  • Pengusaha mikro, kecil dan menengah dengan berbagai latar belakang (misalnya laki-laki dan perempuan, pekerja terampil dan kurang terampil, petani, lulusan teknik, pemuda pengangguran, para profesional, pensiunan PNS, migran dari pedesaan, dll). Setidaknya 70% dari pengusaha yang dipilih akan memiliki, pada awal dukungan proyek, pendapatan di bawah rata-rata provinsi. Setidaknya 40% dari pengusaha tersebut adalah perempuan. Kepentingan utama pengusaha adalah untuk lebih mengembangkan perusahaan mereka dalam kerangka Program Pengembangan Usaha Berskala Kecil (Small Enterprises Development atau SED).

Kedua kelompok sasaran tidak saling tertutup. Seringkali anggota dari kategori pertama menjadi pengusaha mikro atau kecil. Selain itu, terdapat banyak pengusaha mikro dan kecil yang dipandu oleh YDP telah mengembangkan bisnis mereka. Banyak dari mereka terus bekerja sama dengan YDP dan menyediakan layanan yang bermanfaat untuk program-programnya. Mereka juga berperan dalam perhimpunan alumni dan pengusaha koperasi.

Penerima bantuan (petani dan pengusaha) akan langsung dilibatkan dalam proyek. Seperti disebutkan sebelumnya, peserta merupakan dua kelompok yang sedikit berbeda, yang akan didekati dengan strategi yang berbeda (CBED dan SED). Penerima bantuan CBED akan diorganisasi dalam kelompok bantuan mandiri di daerah pedesaan. Pengusaha kecil, baik di pedesaan dan perkotaan, akan dibimbing secara individual (tapi tidak eksklusif).

Untuk kedua kelompok, kriteria pemilihan secara umum calon peserta proyek ini adalah sebagai berikut:

  • Benar-benar membutuhkan layanan proyek;
  • Memiliki motivasi yang baik dan berkeinginan mengembangkan perusahaannya (dalam arti kata yang luas);
  • Memiliki keterampilan produksi dasar;
  • Tidak terikat dengan pedagang atau kolektor (Tidak bergantung dan dapat bekerja sebagai petani atau pengusaha independen);
  • Tidak dalam bimbingan proyek lain yang serupa (untuk menghindari tumpang tindih dan jasa yang berlebihan atau over-promosi).

Proyek ini memberikan manfaat pada tujuan berikut (jangka panjang):

  • Peningkatkan pendapatan kelompok sasaran,
  • Peningkatan peran perempuan dalam kegiatan ekonomi,
  • Perbaikan kapasitas dan kemampuan managemen perertanian dan penataan hutan untuk pemeliharaan lingkungan khususnya hutan;
  • Peningkatan posisi sosial-ekonomi kelompok sasaran hingga terjadi pengurangan ketidak-seimbangan intra dan inter regional ekonomi,
  • Peningkatan kesempatan kerja yang menguntungkan;
  • Pembentukan dan penguatan organisasi kelompok sasaran otonom yang mampu mempromosikan dan membela hak-hak anggota mereka dengan efektif dan untuk mengabadikan momentum pembangunan yang dilakukan dalam proyek;
  • Untuk menciptakan dan melindungi lingkungan yang lebih baik yang dapat mendukung pembangunan berkelanjutan melalui kegiatan proyek.

1Sebuah survei di Timor Barat dan Nusa Penida telah menunjukkan bahwa, sebelum intervensi YDP ini, hampir 80% dari populasi mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka secara berkala



Halaman sebelumnya Indeks Berita Terkini